Selasa, 09 Juni 2015

Konservasi Arsitektur ( ASEAN )

Angkor Wat, Kamboja

Angkor Wat adalah sebuah kuil atau candi yang terletak di kota AngkorKamboja. Kuil ini dibangun oleh Raja Suryawarman II pada pertengahan abad ke-12. Pembangunan kuil Angkor Wat memakan waktu selama 30 tahun. Angkor Wat terletak di kompleks candi Angkor yang terkenal di propinsi Siem Reap. akses menuju Siem Riep cukup mudah, yaitu 4 jam melalui jalan darat atau sekitar 45 menit dengan pesawat terbang dari Phnom Penh. Angkor Wat sendiri sebenarnya hanya merupakan salah satu candi di kawasan Angkor. Masih ada sejumlah candi lain yang hingga saat ini masih dalam tahap restorasi seperti Angkor Thom (candi Bayon), Phnom Bakheng, Candi Baphuon, Terrace of Elephant, Candi Banteay Srei yang didedikasikan kepada dewa Siwa, Candi Phnom Krom, Candi Phnom Kulen, dll.  tetapi Angkor Wat merupakan kuil yang paling terkenal di dataran Angkor. Raja Suryawarman II memerintahkan pembangunan Angkor Wat menurut kepercayaan Hindu yang meletakkan gunung Meru sebagai pusat dunia dan merupakan tempat tinggal dewa-dewi Hindu, dengan itu menara tengah Angkor Wat adalah menara tertinggi dan merupakan menara utama dalam kompleks bangunan Angkor Wat. Sebagaimana mitologi gunung Meru, kawasan kuil Angkor Wat dikelilingi oleh dinding dan terusan yang mewakili lautan dan gunung yang mengelilingi dunia. Jalan masuk utama ke Angkor Wat yang sepanjang setengah kilometer dihiasi pagar susur pegangan tangan dan diapit oleh danau buatan manusia yang disebut sebagai Baray. Jalan masuk ke kuil Angkor Wat melalui pintu gerbang, mewakili jambatan pelangi yang menghubungkan antara alam dunia dengan alam dewa-dewa.

Sejarah

Angkor Wat terletak 55 kilometres (34 mi) di utara kota modern Siem Reap, dan bergeser ke timur dari bekas ibu kota sebelumnya yang berpusat di candi Baphuon. Candi ini berada di kawasan kelompok percandian terpenting di Kamboja, juga menjadi candi paling selatan dari kelompok candi di kota Angkor.

Rintisan rancangan dan pembangunan candi dimulai pada paruh pertama abad ke-12 Masehi, pada masa pemerintahan rajaSuryawarman II (memerintah pada 1113 – sekitar 1150). Dipersembahkan untuk memuliakan Wisnu, candi ini dibangun sebagai candi agung negara milik raja sekaligus sebagai ibu kota. Karena prasasti yang menyebutkan pembangunannya belum ditemukan, maka nama asli candi ini tidak diketahui. Ditafsirkan candi ini mungkin aslinya disebut sebagai"Preah Pisnu-lok" (Bahasa Khmer Kuno, serapan dari bahasa Sanskerta: "Vara Vishnu-loka") secara harfiah bermakna "Kawasan Suci Wisnu", berdasarkan dewa utama yang dimuliakan di candi ini. Proyek pembangunan sepertinya dihentikan segera setelah kematian raja, menyisakan beberapa relief rendah yang belum rampung. Pada 1177, kira-kira 27 tahun setelah kematian Suryawarman II, Angkor diserang oleh bangsa Champa, musuh tradisional bangsa Khmer. Kemudian kerajaan Khmer dipulihkan kembali oleh raja baru Jayawarman VII, yang mendirikan ibu kota baru di Angkor Thom candi kerajaan baru di Bayon, yang terletak beberapa kilometer di utara Angkor Wat.
Pada akhir abad ke-13, Angkor Wat perlahan-lahan dialihfungsikan dari candi Hindu menjadi candi Buddha Theravada, hal ini berlangsung hingga kini. Angkor Wat agak tidak biasa dibandingkan candi-candi lainnya di Angkor, meskipun ditelantarkan setelah abad ke-16, Angkor Wat tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Angkor tetap bertahan antara lain salah satunya karena parit yang mengelilinginya melindungi bangunan candi dari rongrongan pohon besar hutan rimba.


Salah satu pengunjung Barat perintis yang mengunjungi candi ini antara lain António da Madalena, seorang biarawan Katolik Portugis yang mengunjunginya pada tahun 1586 yang menyatakan "sebuah bangunan yang luar biasa yang tak mungkin digambarkan dengan pena, karena tidak ada bangunan lain di dunia ini yang menyerupainya. Bangunan ini memiliki menara dengan hiasan yang sangat halus dan indah yang hanya bisa diciptakan oleh manusia jenius."Pada pertengahan abad ke-19, candi ini dikunjungi oleh ilmuwan dan penjelajah Perancis, Henri Mouhot, yang memperkenalkan situs ini ke dunia Barat melalui catatan perjalanannya, ia menulis:
"Candi ini—menyaingi (kemegahan) Bait Salomo, dibangun oleh Michelangelo purba—pantas menduduki tempat terhormat sebagai salah satu bangunan terindah (di dunia). Bangunan ini lebih besar dari segala peninggalan Yunani atau Romawi, dan menyajikan kontras yang sangat menyedihkan dengan kondisi kini yang jatuh terpuruk ke dalam kebiadaban."
Mouhot, seperti kebanyakan pengunjung Barat, sulit memercayai bahwa bangsa Khmer mampu membangun candi semegah ini, secara keliru memperkirakan waktu pembangunannya sezaman dengan era Romawi Kuno. Sejarah sebenarnya dari Angkor Wat secara perlahan dirangkaikan kembali melalui mempelajari gaya arsitektur serta bukti epigrafi tertulis pada prasasti, dilanjutkan dengan pembersihan di sekitar situs Angkor. Penggalian di sekitar situs Angkor Wat tidak menemukan peninggalan permukiman seperti bekas rumah hunian atau bukti hunian lainnya seperti perabot memasak, senjata, atau bekas pakaian yang biasa ditemukan di situs purbakala. Hanya monumen inilah yang ditemukan di kawasan ini.
Angkor Wat menjalani pemugaran yang berarti pada abad ke-20, kebanyakan di antaranya adalah membersihkan jeratan tumbuhan dan tumpukan tanah yang menutupi bangunan. Proyek pemugaran terputus akibat perang saudara dan kendali rezim Khmer Merah atas Kamboja pada dasawarsa 1970-an dan 1980-an, akan tetapi kerusakan relatif minim pada periode ini yang kebanyakan adalah penjarahan dan pencurian serta perusakan pada arca setelah era Angkor.
Candi ini merupakan simbol yang kuat dan amat penting bagi negara Kamboja, sebagai sumber kebanggaan nasional dan menjadi faktor penting bagi hubungan diplomatik luar negeri antara Kamboja dengan Perancis, Amerika Serikat, dan Thailand. Penggambaran Angkor Wat dalam bendera nasional Kamboja telah mulai ditampilkan sejak diperkenalkannya bendera perdana Kamboja pada 1863. Akan tetapi, dari perspektif sejarah dan antarbudaya, Angkor Wat tidak pernah menjadi lambang kebanggaan nasional yang sesungguhnya sui generis namun diterapkan dalam proses politik-budaya oleh Kolonial Perancis yang menampilkan candi ini dalam pameran Kolonial Perancis dan pameran universal di Paris dan Marseille antara tahun 1889 dan 1937.
Warisan kesenian yang agung dari Angkor Wat dan monumen Khmer lainnya di kawasan Angkor telah mendorong Perancis untuk memasukkan Kamboja sebagai protektoratPerancis pada 11 Agustus 1863 dan menyerang kerajaan Siam untuk merebut kendali atas kawasan reruntuhan candi ini. Hal ini mendorong Kamboja untuk merebut kembali kawasan di sudut barat laut yang di bawah penjajahan Siam sejak tahun 1351 (Manich Jumsai 2001), atau menurut sumber lain, 1431. Kamboja meraih kemerdekaan dari Perancis pada 9 November 1953 dan sejak saat itu menguasai candi Angkor Wat.

Arsitektur
Situs dan Denah
Angkor Wat, yang terletak di 13°24′45″LU 103°52′0″BT, adalah kombinasi unik bukit candi, desain standar untuk candi negara kekaisaran dan kemudian denah galeri konsentris. Candi tersebut adalah representasi dari Meru, tempat para dewa: menara kwinkunkstengah melambangkan lima puncak bukit, dan dinding dan parit melambangkan barisan bukit dan samudra. Akses ke kawasan paling atas candi tersebut semakin lebih eksklusif, namun kaum awam hanya boleh ke lantai terbawah.


Tidak seperti kebanyakan candi-candi Khmer, Angkor Wat menghadap ke barat ketimbang timur. Hal ini telah membuat banyak orang (termasuk Glaize dan George Cœdès) menyimpulkan bahwa Suryawarman membuatnya untuk digunakan sebagai candi tempat penguburannya. Bukti lebih lanjut untuk pandangan ini adalah dengan disediakannya relief dasar, yang dibuat dalam arah berlawanan jarum jam—prasawya dalam terminologi Hindu—karena ini adalah kebalikan dari penataan pada umumnya. Ritual berlangsung dalam penataan berlawanan saat pemakaman bercorak Brahminik. Arkeolog Charles Higham juga menjelaskan suatu wadah yang mungkin telah menjadi tempat penguburan yang dilakukan di menara pusat. Candi ini telah diyakini oleh beberapa orang sebagai pengeluaran terbesar untuk pemakaman mayat. Namun, Freeman dan Jacques menyatakan bahwa beberapa candi Angkor lainnya menghadap ke timur, dan menunjukan bahwa keselarasan Angkor Wat adalah karena untuk didedikasikan kepada Wisnu, yang dikaitkan dengan barat.


Sebuah interpretasi lebih lanjut dari Angkor Wat telah diusulkan oleh Eleanor Mannikka. Penggambaran pada keselarasan candi dan dimensi, dan pada isi dan susunan relief dasar, ia berargumen bahwa struktur tersebut menunjukan sebuah klaim era baru yang damai di bawah Raja Suryawarman II: "sebagai pengukuran siklus waktu matahari dan bulan yang dibangun di ruang suci Angkor Wat, mandat ilahi ini sampai peraturan yang dibawa ke ruang bakti dan koridor dimaksudkan untuk melanggengkan kekuasaan raja dan untuk menghormati dan menentramkan para dewa yang dimanifestasikan berada di atas langit." Penyataan Mannikka ini telah diterima dengan percampuran kepentingan dan skeptisisme di kalangan akademisi.[18] Ia menjauhkan diri dari spekulasi lain, seperti Graham Hancock, yang menyatakan bahwa Angkor Wat adalah bagian dari representasi rasi bintang Draco.

Gaya
Angkor Wat adalah contoh utama gaya klasik arsitektur Khmergaya Angkor Wat—yang berasal dari nama candi tersebut. Arsitek Khmer abad ke-12 telah memiliki keahlian dan kepercayaan diri dalam menggunakan batu pasir (bukan batu bata atau laterit) sebagai material pembangunan utama. Sebagian besar kawasan yang terlihat menggunakan blok batu pasir, sementara laterit digunakan untuk dinding luar dan untuk bagian struktural tersembunyi. Bahan perekat yang digunakan untuk menggabungkan blok batu tersebut belum teridentifikasi, meskipun diperkirakan mengandung resin atau kalsium hidroksida alami.
Angkor Wat telah menuai pujian berkat semua harmoni desain tersebut, yang dianggap setara dengan arsitektur Yunani dan Romawi Kuno. Menurut Maurice Glaize, seorang konservator Angkor pertengahan abad ke-20, candi tersebut "mencapai kesempurnaan klasik oleh monumentalitas pengendalian elemen, keseimbangan, dan pengaturan yang tepat dari proporsinya. Ini adalah sebuah karya kekuasaan, persatuan, dan gaya."


Arsitekturnya memiliki elemen unsur-unsur ciri-ciri yang meliputi: ogival, menara dengan bentuk bergelombang seperti kuncup teratai; setengah galeri yang memperluas lorong-lorong; galeri aksial yang menghubungkan pagar; dan teras berbentuk palang yang terdapat di sepanjang bagian utama candi tersebut. Gaya elemen dekorasi tersebut adalah dewata (atau bidadari)relief dasar, dan pedimen karangan bunga yang luas dan gambaran naratif. Patung-patung di Angkor Wat dianggap konservatif, menjadi lebih statis dan kurang anggun dari karya sebelumnya. Elemen lainnya dari desain tersebut telah hancur oleh penjarahan dan faktor usia, termasuk stuko berlapis emas pada menara, penyepuhan pada beberapa figur di relief dasar, dan panel langit-langit dan pintu kayu.

Dekorasi
Dekorasi Angkor Wat yang sebagian besar berupa relief rendah, termahsyur keindahannya secara luas karena begitu padu dengan arsitektur bangunan. Dinding bagian dalam pada galeri luar menampilkan berbagai adegan berskala besar terutama gambaran bagian-bagian dari epik HinduRamayana dan Mahabarata. Higham menyebutnya "susunan linear terbesar yang dikenal sebagai ukiran batu". Dari barat laut berlawanan arah jarum jam, galeri barat menampilkan Pertempuran Lanka (dari Ramayana, menampilkan tentang Rama melawan Rahwana) danPertempuran Kurukshetra (dari Mahabharata, memperlihatkan perselisihan antara kelompokKurawa dan Pandawa). Pada galeri selatan mengikuti satu-satunya gambaran sejarah, sebuah prosesi Suryawarman II, terdapat gambaran 32 neraka dan 37 surga dalam mitologi Hindu.



Pada galeri timur terdapat salah satu gambaran adegan paling terkenal yang disebut Pengadukan Samudra Susu, memperlihatkan 92 asura dan 88 dewa memakai ular Wasuki untuk mengaduk samudra susu di bawah pengarahan Wisnu (Mannikka hanya menghitung 91 asura, dan menjelaskan nomor asimetris sebagai perwakilan jumlah hari dari titik balik matahari musim dingin sampai ekuinoks musim semi, dan dari ekuinoks sampai titik balik matahari musim panas). Diikuti dengan gambaran Wisnu bertempur melawan asura (tambahan dari abad ke-16). Galeri utara menampilkan kemenangan Kresna melawan Bana (dimana menurut Glaize, "Pengerjaannya adalah yang paling buruk") dan pertempuran antara dewa Hindu dan asura. Bagian barat laut dan barat daya paviliun kedua menampilkan adegan berskala lebih kecil, beberapa tak teridentifikasi tapi kebanyakan dari Ramayana atau kehidupan Kresna.


Angkor Wat didekorasi dengan gambar apsara dan dewata; terdapat lebih dari 1.796 gambaran dewata dalam inventaris penelitian saat ini. Arsitek Angkor Wat membuat gambar apsara kecil (30–40 cm) sebagai motif dekorasi pilar dan dinding. Mereka memasukan gambar dewata besar (seluruh lukisan bertubuh utuh berukuran sekitar 95–110 cm) lebih menonjol di setiap tingkatan candi dari tempat masuk paviliun sampai bagian atas menara tinggi. Pada tahun 1927, Sappho Marchal menerbitkan sebuah katalog studi tentang keanekaragaman yang luar biasa dari tata rambut, hiasan kepala, pakaian, sikap tubuh dan tangan, perhiasan, dan dekorasi bunga para apsara. Kemudian disimpulkan oleh Marchal, bahwa hal ini didasarkan pada praktik tata rias dan berbusana sebenarnya dari periode Angkor.

Angkor Wat Sekarang
Badan Survei Arkeologi India melakukan kegiatan restorasi pada candi antara 1986 dan 1992. Upaya konservasi lanjutan dan peningkatan masif dalam pariwisata pada situs Angkor Wat telah terlihat sejak tahun 1990an. Candi ini merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia Angkor, didirikan pada tahun 1992, yang telah memberikan sejumlah dana dan telah mendorong pemerintah Kamboja untuk melindungi situs tersebut. German Apsara Conservation Project (GACP) telah bekerja untuk melindungi dewata dan relief dasar lainnya yang menghiasi candi tersebut dari kerusakan.
Survei sebuah organisasi menunjukan bahwa sebanyak 20% dewata berada dalam kondisi sangat memprihatinkan, umumnya dikarenakan erosi alami dan kerusakan batu namun sebagian juga karena upaya restorasi sebelumnya. Pekerjaan lainnya melibatkan perbaikan bagian yang runtuh dari struktur, dan pencegahan keruntuhan lebuh lanjut: bagian barat di lantai atas contohnya, telah ditopang oleh penyangga sejak 2002, sementara tim Jepang menyelesaikan restorasi perpustakaan utara dari bagian luar pada tahun 2005. Yayasan Monumen Dunia mulai melakukan kegiatan konservasi di Galeri Pengadukan Lautan Susu pada tahun 2008 setelah beberapa tahun mempelajari kondisinya. Proyek pemugaran ini meliputi pemulihan sistem bangunan tradisional Khmer dan membersihkan batu dari rekatan semen dari proyek pemugaran sebelumnya.
Penggunaan semen sebagai perekat batu pada pemugaran sebelumnya adalah kesalahan yang telah mengakibatkan garam mineral terbawa air hujan terselip memasuki struktur dibalik relief. Hal ini menimbulkan perubahan warna dan kerusakan pada permukaan pahatan. Fase utama kerja berakhir pada tahun 2012, dan pemasangan komponen terakhir puncak atap galeri dilakukan pada tahun 2013.
Mikroba biofilm ditemukan merusak batu pasir di Angkor Wat, Preah Khan, dan Bayon dan Prasat Barat di Angkor. Dehidrasi dan radiasi filamen resisten cyanobakteria dapat memproduksi asam organik yang merusak batu. Sebuah jamur filamen gelap ditemukan dalam sampel Preah Khan bagian dalam dan luar, sedangkan alga Trentepohliaditemukan hanya dalam sampel yang diambil dari bagian luar, serta batu bernoda merah muda di Preah Khan.


Angkor Wat menjadi tujuan pariwisata utama. Pada tahun 2004 dan 2005, data pemerintah menunjukan bahwa sekitar 561.000 dan 677.000 wisatawan luar negeri datang ke provinsi Siem Reap, sekitar 50% dari seluruh wisatawan luar negeri yang mengunjungi Kamboja di kedua tahun tersebut. Situs tersebut telah dikelola oleh kelompok swasta SOKIMEX sejak 1990, yang disewa dari pemerintah Kamboja. Masuknya wisatawan sejauh ini telah menyebabkan kerusakan yang relatif kecil, selain beberapa grafiti; tali dan tangga kayu telah dipakai untuk melindungi setiap bagian relief dasar dan lantai. Pariwisata juga telah memberikan sejumlah dana untuk perawatan utama — seperti pada tahun 2000 sekitar 28% dari penjualan tiket di seluruh situs Angkor digunakan untuk perawatan candi — meskipun sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh tim yang disponsori oleh pemerintah luar negeri ketimbang otoritas Kamboja.
Pertumbuhan pariwisata secara signifikan telah terlihat dampaknya pada situs Angkor Wat sepanjang tahun. Karena itulah sebuah seminar untuk mendiskusikan konsep "wisata kebudayaan" digelar oleh UNESCO dan Komite Koordinasi Internasional untuk Pemeliharaan dan Pembangunan Situs Bersejarah Angkor, yang terkait dengan perwakilan dari Pemerintahan Kerajaan dan otoritasAPSARA. Untuk menghindari pariwisata komersial dan massal, seminar ini menekankan pentingnya penyediaan akomodasi dan layanan berkualitas tinggi agar pemerintah Kamboja mendapatkan keuntungan ekonomi, serta memadukannya dengan kekayaan budaya Kamboja. Pada tahun 2001, gagasan ini menyebabkan terbentuknya konsep "Kota Pariwisata Angkor" yang akan mengembangkan hal-hal yang berkaitan dengan arsitektur tradisional Khmer, yakni pembangunan fasilitas rekreasi dan pariwisata, dan menyediakan hotel-hotel mewah yang mampu menampung para wisatawan dalam jumlah besar.
Prospek pengembangan akomodasi pariwisata besar-besaran sepertinya telah menimbukan kekhawatiran otoritas APSARA dan ICC, yang mengklaim bahwa pengembangan pariwisata di daerah tersebut sebelumnya telah mengabaikan peraturan konstruksi, dan kebanyakan dari proyek-proyek ini berpotensi merusak fitur lanskap. Selain itu, proyek-proyek berskala besar tersebut telah mengancam kualitas air di sekitar kota, menimbulkan limbah, dan menyedot sistem pasokan listrik. Telah tercatat bahwa tingginya frekuensi pariwisata, meningkatnya permintaan atas penginapan di daerah tersebut, dan pengembangan jalan besar bebas hambatan, memiliki efek langsung pada kualitas air di bawah tanah, yang kemudian akan mengganggu stabilitas struktur candi di Angkor Wat. Penduduk lokal Siem Reap juga menyuarakan keinginan mereka untuk menciptakan lingkungan alam yang mempesona dan suasana kota yang bersahabat untuk menunjang pariwisata. Karena suasana lokal yang memesona ini adalah komponen kunci untuk proyek seperti
Kota Pariwisata Angkor, para pejabat lokal terus membahas bagaimana menyukseskan pariwisata di masa depan tanpa mengorbankan nilai dan budaya lokal.
Pada Forum Pariwisata ASEAN 2012, Indonesia dan Kamboja telah bersepakat bahwa Borobudur dan Angkor Wat menjadi situs bersaudara dan kedua provinsi tempat candi tersebut berdiri juga ditetapkan sebagai provinsi bersaudara. Dua maskapai pesawat Indonesia juga diminta untuk melakukan penerbangan langsung dari Yogyakarta,Indonesia ke Siem Reap.

Sumber :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar