Rabu, 27 Juni 2012

Manusia dan Kegelisahan

RASA TAKUT ATAU PHOBIA?

Rasa takut merupakan reaksi manusiawi yang secara biologis merupakan mekanisme perlindungan bagi seseorang pada saat menghadapi bahaya. Ketakutan adalah emosi yang muncul pada saat orang menghadapi suatu ancaman yang membahayakan hidup atau salah satu bidang kehidupan tertentu. Ketakutan biasa disebut dengan tanda peringatan terhadap hidup, peringatan agar berhenti, melihat atau mendengarkan.

Setiap manusia dihadapkan pada peringatan serta ancaman yang sangat menuntut perhatian. Rasa takut betul-betul memperlambat dan mengendalikan sejumlah besar emosi psikosomatis. Salah satu tujuan dari pengendalian adalah untuk membantu seseorang untuk menghindarkan diri dari bahaya dan mengatasinya. Bila seseorang diliputi rasa takut, kebahagiaan maupun sukses kita terancam, orang itu sering mengalami rasa nyeri pada perut, telapak tangan berkeringat, jantung berdenyut kencang, malas bergerak, gagap bicara dan lain sebagainya.




Berhadapan dengan situasi yang menakutkan, reaksi orang berbeda-beda, ada orang yang tidak takut pada si anjing itu sendiri, tetapi mereka takut mendengar gonggongannya. Tapi ada orang lain yang tidak terganggu gonggong anjing. Ada orang lain yang sungguh-sungguh takut terhadap halilintar, sedang orang lain tidak. Adalah normal pada saat menghadapi bahaya tertentu orang merasa takut dan tingkat ketakutan itu biasanya sebanding dengan besar-kecilnya bahaya. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa penyebab obyektif dari rasa takut itu justru dilupakan seseorang, sehingga reaksinya terasa lebih berat, lebih cepat dan lalu menimbulkan kepanikan. Rasa takut yang sedemikian hebat ini sangat tidak sebanding dengan penyebabnya. Inilah reaksi neurotik murni. Ketakutan inilah yang kita sebut dengan Phobia. Hanya dengan melihat kucing hitam, seseorang lalu khawatir akan mati. Orang lain sudah hampir pingsan hanya karena ada ular mendekatinya. Pengertian Phobia adalah Ketakutan neurotik menunjukkan adanya reaksi-emosional yang tak sebanding dengan rangsangan. Dengan kata lain penyebab obyektif dari reaksi emosional dan ketakutaannya sama sekali tidak diperhitungkan.


CONTOH KASUS


Acoraphobia (Takut pada Ketinggian)

Alkisah, ada seorang pria yang telah berumah tangga yang selalu takut akan tempat-tempat yang tinggi. Ia menderita acoraphobia. Ia juga mengeluh karena kepala pusing-pusing dan mual. Dalam pemeriksaan fisik tak ditemukan sesuatu pun yang dianggap sebagai penyebab dari gejala-gejala itu.

Ditelusurilah riwayat pria itu…

Pada suatu hari anak gadisnya mengandung diluar nikah. Ia merasa sangat perlu untuk segera menyelamatkan nama baiknya dengan menngirim anak gadisnya itu kerumah neneknya yang tinggal jauh dipelosok desa dan peristiwa tersebut sangat dirahasiakan. Anak gadisnya kemudian pulang kerumah dan keluarga itu hidup tenang seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu. Meski dirahasiakan, enam bulan kemudian ternyata beberapa tetangganya ada yang tahu bahwa anak gadisnya pernah hamil diluar nikah.
Tidak lama kemudian ayah itu mulai memperlihatkan gejala-gejala phobianya, takut pada tempat-tempat yang tinggi; acoraphobia. Ia takut menengok keluar jendela walau kantornya terletak dilantai enam. Meskipun ia berusaha menyangkal dan menghilangkan pikiran-pikiran buruknya tentang tempat-tempat tinggi, tetapi kemudian terbukti ia mencoba bunuh diri dengan melompat dari tempat tinggi untuk mengakhiri beban nama baiknya.



Sumber : http://duniapsikologi.dagdigdug.com/tag/phobia/

Rabu, 20 Juni 2012

Manusia, Tanggung Jawab, dan Pengabdian


=> Tanggung Jawab <=

Mungkin, banyak remaja saat ini yang sulit untuk diberikan hal ini. Tanggung jawab. Mendengarnya saja, mereka berpikir seakan-akan, tanggung jawab itu adalah sebuah hal yang sulit untuk dilaksanakan. Namun, untuk masalah satu ini, hanya bisa dihadapi oleh dirinya sendiri.

Bagi remaja pada umumnya, kebanyakan dari mereka melalaikan tanggung jawab mereka sebagai seorang siswa atau siswi. Pada satu contoh, seorang murid diberikan sebuah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam satu hari. Mungkin sang murid akan mengiyakannya dengan mudah, lebih-lebih menyepelehkannya. Lambat laun, dia akan melupakan kewajibannya tersebut dengan menonton telivisi, atau hal-hal yang tak begitu penting. Satu contoh, mungkin murid tersebut bermain game hingga larut malam. Lalu, ia lupa mengerjakan pekerjaan rumahnya dan menyusun buku untuk pelajaran besok. Keesokan harinya, mungkin dia tidak bangun kesiangan. Akan tetapi, dia melalaikan tanggung jawabnya untuk mengerjakan apa yang harus ia kerjakan. Pagi-pagi ia panik, atau lebih-lebih ia cuek bebek. Murid ini bisa saja berpikiran, ia dapat mengerjakan pekerjaan rumahnya disekolah. Setelah sampai sekolah, boleh saja ia tidak terlambat. Namun, ia akan tergesa-gesa. Panik, akhirnya ia melakukan tindakan tidak terpuji, yaitu menyontek pekerjaan rumah temanya sendiri. Bel masuk, murid tersebut tidak dapat menyelesaikan hasil contekannya. Guru masuk, meminta hasil pekerjaannya. Pada akhirnya, dia akan mengumpulkan pekerjaan rumah tersebut secara minim. Secara tiba-tiba, ada yang menyampaikan bahwa ia mengerjakan pekerjaan rumahnya disekolah, menyontek pula. Alhasil, dia dihukum, dan nilainya diberi nol.

Yah, kejadian ini tak jarang dijumpai oleh murid-murid yang baru memasuki usia remajanya. Bagaimana cara untuk mengatasi kelalaian tanggung jawab bagi seorang murid/remaja?

Bisa dimulai dengan satu cara yang sangat kecil, yaitu dengan cara melatih ingatan sebuah tugas dari dini. Jika kita seorang yang pelupa, kita dapat mengingat tugas-tugas yang diberikan dengan cara mencatatnya disebuah memo. Dari sana, adalah sebuah langkah kecil untuk menjadi seorang yang bertanggung jawab.

Atau, dengan cara menguangi aktivitas yang tidak begitu penting, misal: bermain game. Kita dapat megulang-ulang pelajaran yang telah kita pelajari disekolah, dan mencoba mengerjakan soal-soal yang terdapat dibuku soal pelajaran tersebut. Dengan begitu, selain kita dapat mengingat pelajaran tersebut, kita dapat melatih tanggung jawab kita sebagai pelajar, yaitu belajar.

Arti tanggung jawab sendiri adalah, sebuah kewajiban yang harus kita penuhi. Kewajiban itu telah kita pilih, maka kita harus menaati semua peraturannya, dan juga konskuensinya. Kita telah memilih menjadi seorang pelajar, maka kita harus menjalani kehidupan layaknya seorang pelajar. Dan, kita harus menerima tata tertib seorang pelajar juga.

Tanggung jawab hanya dapat ditemukan oleh diri kita sendiri. Bukan ibu, ayah, atau kereabat kita yang membentuk pribadi itu. Jadi, mulailah melatih pribadi yang bertanggung jawab atas segala kewajiban yang harus dipatuhi! ^^



sumber : http://zuppa-vanilla.blogspot.com/2009/04/artikel-tanggung-jawab.html