Rabu, 10 Juni 2015

Konservasi Arsitektur (Internasional)

Kota Tua Heidelberg, Jerman

Jerman merupak Negara yang banyak menderita kehilangan dan kerusakan selama perang dunia kedua. Setelah perang dunia kedua, Jerman terbagi menjadi dua bagian besar. Sisi timur diduduki komunis Rusia dan sisi barat diduduki sekutu. Daerah barat terbagi lagi menjadi tiga bagian, masing-masing untuk Amerika Serikat, Inggris dan Prancis.
Selama perang, banyak daerah di Jerman hampir habis dihantam bom sekutu yang meninggalkan kerusakan yang sangat parah pada daerah-daerah di Jerman.
Heidelberg adalah salah satu dari kota besar Jerman yang tidak hancur pada perang dunia ke-2 dikarenakan kota ini digunakan untuk membangun barak tentara Amerika. Oleh sebab itu tempat ini mampu mempertahankan kekunoannya. Bagian yang khusus dari kota ini adalah kota tua dari zaman Barok (Barocke Altstadt) yang memperlihatkan Arsitektur bangunan beratap merah dengan gaya barok. Kota ini menjadi kota konservasi dikarenakan peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada yang kemudian dilestarikan sehingga mendapat julukan kota tua yang menjadi salah satu tujuan wisata di Jerman.
Heidelberg adalah sebuah kota otonom (Kreisfreie Stadt) di Baden-WürttembergJerman, yang terletak di tepi sungai Neckar. Heidelberg terkenal dengan kastil, kota tua, dan universitas tua yang sangat terkenal di dunia.
Sampai tahun 2008, lebih dari 145.000 penduduk tinggal di kota seluas 109 km² (42 mil²) ini. Heidelberg adalah sebuah otoritas persatuan. Distrik Rhein-Neckar mengelilingi Heidelberg dan beribukota di sini meskipun Heidelberg bukan bagian distrik tersebut.
Heidelberg berada di Sungai Neckar, pada titik sungai itu meninggalkan lembah yang sempit dan terjal di Odenwald untuk mengalir ke lembah sungai Rhein, yang 20 km (12 mil) di barat daya Heidelberg akan bergabung dengan Rhein di Mannheim. Heidelberg adalah bagian kawasan padat yang dikenal sebagai Wilayah Rhein-Neckar Raya.

Kastil (Schloss)

Kastil Heidelberg atau biasa dikenal dengan Heidelberger Schloss adalah reruntuhan bangunan yang paling terkenal di Jerman. Bangunan ini semula adalah benteng yang terletak di tempat yang strategis sebagai sebuah benteng pertahanan. Benteng ini kemudian menjadi tempat tinggal / istana dari raja di Pfalz. Sejak kerusakan pada tahun 1689 dan 1693 oleh karena perang perebutan takhta dari para ahli waris kerajaan Pfalz, bangunan ini hanya sebagian saja yang direstorasi. Pada tahun 1764 salah satu bagian dari bangunan ini kembali rusak oleh karena kebakaran yang disebabkan oleh hantaman petir. Reruntuhan bangunan istana ini berdiri setinggi 80 meter pada tebing gunung yang mendominasi wajah kota Heidelberg.


Jembatan Tua / Alte Brücke
Nama resmi dari Jembatan Tua (terkenal dengan nama Alten Brücke) adalah Jembatan Karl-Theodor. Jembatan ini merupakan bangunan jembatan yang tertua di Jerman yang secara tertulis pertama kali disebutkan pada tahun 1248. Sebelum dibangun jembatan permanen, berulang kali dibangun jembatan kayu yang berulang kali rusak oleh karena es. Dalam bentuknya yang sekarang ini, jembatan permanen ini dibangun pada tahun 1788. Namun pada akhir dari perang dunia ke-2 dua pilar jembatan terkena bom. Pada tahun 1947 jembatan ini telah selesai diperbaiki.




Bangunan-bangunan Gereja Yang Penting
Gereja Roh Kudus atau terkenal dengan nama Heiliggeistkirche adalah gedung gereja yang paling terkenal di Heidelberg. Gereja ini terletak di pusat kota, tidak jauh dari Istana Heidelberg. Di dalam gereja ini pernah disimpan Bibliotheca Palatina, manuskrip yang sangat terkenal. Namun, selama peperangan 30 tahun kumpulan manuskrip tersebut dicuri dan diberikan kepada Paus sebagai hadiah.
Gereja tertua dari kota Heidelberg adalah Gereja St. Petrus atau dikenal dengan nama Peterskirche. Usia gereja ini kira-kira 900 tahun. Pada masa akhir abad pertengahan, gereja ini berfungsi sebagai Kapel Universitas. Gereja ini berfungsi juga sebagai tempat beristirahatnya (kuburan) kira-kira 150 profesor dan para petinggi kerajaan.
Tidak jauh dari Peterskirche berdiri Gereja Yesuit yang selesai dibangun pada 1749. Gereja ini merupakan saksi sejarah kontra reformasi di Heidelberg.
Gereja-gereja yang berdiri seiring dengan pembangunan bagian barat kota (Weststadt) pada awal abad ke-20 adalah Gereja Kristus (Christuskirche) pada tahun 1904 yang merupakan gereja bagi umat Kristen Protestan, dan Gereja St. Bonifatius pada tahun 1903 yang merupakan gereja bagi umat Katolik.

Gedung-gedung Bersejarah
Bangunan yang tertua di kota Heidelberg adalah bangunan yang kini berfungsi sebagai hotel. Bangunan tertua ini bernama Hotel „Zum Ritter“. Gedung ini dibangun pada tahun 1592 oleh satu keluarga pedagang kain. Gedung ini terletak berhadap-hadapan dengan Heiliggeistkirche.
Di perbatasan bagian timur kota tua Heidelberg berdiri gerbang kota yang bernama Karlstor. Dibangun selama 6 tahun dan selesai pada tahun 1781.

Universitas dan Sekolah Tinggi




Heidelberg dikenal sebagai kota pelajar. Yang menjadikan kota ini dinamai sebagai kota pelajar adalah keberadaan Universitas Heidelberg di kota ini. Universitas ini didirikan pada tahun 1386 dan merupakan universitas tertua di Jerman. Lokasi kampus terletak di dua lokasi. Lokasi pertama terletak di kota tua Heidelberg. Banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah di kota tua yang menjadi kampus bagi ilmu-ilmu kejiwaan, sosial dan hukum. Sedangkan lokasi kedua adalah di lokasi kampus baru di Neuenheimer Feld, yang merupakan kampus terpadu bagi ilmu-ilmu alam.



Pada tahun 1904 Sekolah Tinggi Pedagogi Heidelberg didirikan.
Pada tahun 1931 berdiri Sekolah Tinggi Musik Gereja (Hochschule für Kirchenmusik Heidelberg). Semula sekolah tinggi ini didirikan untuk pemusik gereja bagi Gereja Protestan Negara di Baden. Di kemudian hari sekolah ini terbuka bagi umum.
Sekolah Tinggi SRH Heidelberg merupakan sebuah perguruan tinggi swasta milik dari perusahaan SRH (Grup SRH). Sekolah Tinggi SRH Heidelberg didirikan pada tahun 1969. Pada tahun 2004 menjadi perguruan tinggi swasta yang pertama kali terakreditasi oleh Badan Keilmuan Jerman (semacam Badan Akreditasi Nasional - Perguruan Tinggi). Perguruan tinggi swasta ini berada di „Science Tower“ di daerah Wieblingen.
Sekolah Tinggi Management Internasional (Hochschule für Internationales Management Heidelberg/HIM) merupakan sebuah sekolah swasta yang diakui oleh negara. Program Bachelor dan Master pada perguruan tinggi ini diakui dan diakreditasi dalam sistem pendidikan tinggi di Jerman dan Inggris. Sistem pendidikan yang berjalan di institusi ini adalah sistem "dual-degree", yaitu para lulusan selain mendapatkan ijazah dari HIM yang diakui di Jerman, mereka juga akan mendapatkan ijazah dari sebuah perguruan tinggi di Inggris yang diakui di sana.
Pada tahun 1979 didirikan Sekolah Tinggi Studi Yudaisme (Hochschule für Jüdische Studien). Sekolah tinggi ini memiliki kampus di kota tua.
Schiller International University, sebuah universitas di Amerika, mendirikan sebuah kampus di Heidelberg. Schiller International University cabang Heidelberg ini menawarkan program Bachelor dan Master di bidang Bisnis Internasional dan Relasi & Diplomasi Internasional.

Sumber :

Konservasi Arsitektur ( ASEAN )

Chinatown, Singapura

Chinatown merupakansalah satu kampung etnis di Singapura yang sudah ada sejak masa kolonial Inggris. Chinatown memiliki latar belakang sejarah yang panjang,mengalami penurunan kualitas pada masapasca perang dunia, menjadi lingkungan kumuh hingga akhirnya dikonservasi oleh pemerintah dan menjadi aset pariwisata Singapura.Chinatown yang kini hidup kembali dengan aktivitas komersialnya seperti toko dan tempat tinggal, ruko dilestarikan telah digunakan untuk tujuan yang baru, misalnya sebagai restoran, spa, kantor dan hotel. Ruko telah menjadi modis dan, akibatnya, real estate berharga. yang menjadi generator kawasan merupakan kasus yang dianggap dapat menjadi preseden karena keberhasilannya setelah direvitalisasi yaitu sebagai kawasan bersejarah dengan coraketnis Tionghoa Singapura.
Sejarah
Jauh sebelum kedatangan Sir Thomas Stamford Raffles tahun 1819, populasi Cina kecil imigran yang sudah menetap di sini, budidaya gambir dan lada. Ketika pelabuhan bebas Singapura didirikan, banyak imigran Cina dan lainnya berbondong-bondong ke pantai nya. Untuk memudahkan administrasi , Raffles memisahkan berbagai kelompok imigran ke perempat rasial. Dalam suratnya 4 November 1822 instruksi kepada Komite Kota, wilayah dari "bank Boat Quay selatan-barat Sungai Singapura" ini ditetapkan sebagai kampung Cina Ini kampung mandiri atau penyelesaian komunitas menjadirumah banyak imigran Cina, dan titik transit bagi kuli pergi ke Malaya. Mengunjungi pedagang mencari akomodasi sementaradi sini juga. Pada tahun 1824, ada 3.317 pemukim, hampirsepertiga dari total populasi. Bahwa pusat kampung dan etnis Cina tumbuh,adalah Chinatown.

1955
1970


Sekarang
Chinatown adalah terbesar di Singapura Bersejarah Kabupaten, dan dalam empat subdistrik Bukit Pasoh, Kreta Ayer, TelokAyer dan Tanjong Pagar diberikan status konservasi pada akhir 1980an.
Tahun dimana banyak kota telah berubah, tapi untungnya, beberapa sisa-sisa dari masa lalu yang penuh warna masih berdiri dan tradisi lama masih bertahan.
Selama festival sepertiTahun Baru Imlek, ada perayaan dan belanja khusus. DanChinatown seperti yang diharapkan selalu berpakaian untuk acara itu, warna-warni, menyala dan berdengung denganaktivitas, menarik penduduk lokal bukan hanya China tapi lain,dan wisatawan juga.


'Ruko' Istilah ini adalah terjemahan langsung dari Cina ('chu tiam' dalam Hokkien; 'wu dian' dalam bahasa Mandarin) yang dikaitkan dengan operasi bisnis umum dilakukan pada tingkat pertama dan kedua, dan tingkat atas untuk tempat tinggal.


Konsep tersebut diberikan oleh pendiri Singapura Sir Stamford Raffles yang ingin membangun sebuah rumah seragam yang terdiri dari beranda sendiri bertindak sebagai jalan kontinu di setiap sisi jalan. Hal ini menjadi biasa dikenal sebagai‘five foot way’.Hal ini membuat jalan tertutup terus menerus yang menyediakan tempat penampungan. Lantai dari lima kaki cara termasuk mosaik, terakota dan ubin tanah liat untuk selesai estetika.


five foot way
Periode klasifikasi :
·         Style Awal (1840-1900),
·         Style Transisi (1890 -1910 ),
·         Style Akhir atau Cina (1910-1930) dan
·         Gaya artdeco (1930-1960).

Style Awal (1840-1900),
Dibangun 1840-1900, ruko awal adalah tingkat rendah, dua bangunan bertingkat dengan ornamen minimum dan biasanya bersifat. Ruko stle awal mudah diidentifikasi dengan hanya memiliki satu jendela, atau maksimal dua, di lantai dua. Penerapan Tuscan dan gaya arsitektur Doric juga cukup jelas dengan eksterior dipotong bersih mereka.


Style Transisi (1890 -1910),
Ruko Style Transisi Pertama lebih vertikal proporsional dari pendahulunya, dan hampir tanpa fitur pengecualian dua jendela di lantai atas. Sebuah merek dagang dari ruko Pertama Transisi adalah kesederhanaan yang elegan dan ornamen yang relatif terkendali.


Style Akhir (1910-1930),
Sebaliknya, Akhir Ruko Gaya menampilkan ornamen yang paling mencolok, bervariasi dan eklektik, seperti ubin dinding dekoratif, bahkan ruang dinding aktual dikurangi dengan adanya jendela, pilaster dan dekorasi lainnya. Setelah Gaya Akhir, ada bergerak menuju ornamentasi sederhana dan desain yang lebih ramping, yang memuncak dalam Art Deco Style.


Style Art Deco (1930-1960),
Art Deco Style Ruko dibedakan oleh motif klasik seperti perintah kolom, lengkungan, Keystone, pedimentsdengan desain geometris, jenis Art Deco menampilkan motifklasik efisien motif yang efisien dan jarang menggunakan keramik dinding dekoratif. Seringkali, gaya ruko menekankan proporsi dan komposisi dari pengelompokan seluruh bangunan sejenis, dengan fokus khusus pada sudut-sudut jalan.

Pada saat gaya keenam Ruko Modern Style-muncul pada 1950-an dan 1960-an, beberapa elemen sebelumnya mulai dihilangkan. Cara lima kaki dan dinding partai tetap, tapi bahan modern seperti beton digunakan. Ruko modern lebih fungsional dan keras. Fasad mereka fitur sirip beton tipis yang berfungsi ganda sebagai ventilasfai udara dan sebagai hiasan sederhana, fitur juga dari beberapa toko Art Deco.
Sedangkan rincian ruko dapat bervariasi, elemen-elemen umum : atap bernada keramik; five foot way menjorok lantai atas, dan jendela kayu.
Secara internal, banyak unsur ruko tua adalah kayu. Udara membuka ke langit antara bagian atap memberikan ventilasi dan cahaya alami.


Sumber :








Selasa, 09 Juni 2015

Konservasi Arsitektur ( ASEAN )

Angkor Wat, Kamboja

Angkor Wat adalah sebuah kuil atau candi yang terletak di kota AngkorKamboja. Kuil ini dibangun oleh Raja Suryawarman II pada pertengahan abad ke-12. Pembangunan kuil Angkor Wat memakan waktu selama 30 tahun. Angkor Wat terletak di kompleks candi Angkor yang terkenal di propinsi Siem Reap. akses menuju Siem Riep cukup mudah, yaitu 4 jam melalui jalan darat atau sekitar 45 menit dengan pesawat terbang dari Phnom Penh. Angkor Wat sendiri sebenarnya hanya merupakan salah satu candi di kawasan Angkor. Masih ada sejumlah candi lain yang hingga saat ini masih dalam tahap restorasi seperti Angkor Thom (candi Bayon), Phnom Bakheng, Candi Baphuon, Terrace of Elephant, Candi Banteay Srei yang didedikasikan kepada dewa Siwa, Candi Phnom Krom, Candi Phnom Kulen, dll.  tetapi Angkor Wat merupakan kuil yang paling terkenal di dataran Angkor. Raja Suryawarman II memerintahkan pembangunan Angkor Wat menurut kepercayaan Hindu yang meletakkan gunung Meru sebagai pusat dunia dan merupakan tempat tinggal dewa-dewi Hindu, dengan itu menara tengah Angkor Wat adalah menara tertinggi dan merupakan menara utama dalam kompleks bangunan Angkor Wat. Sebagaimana mitologi gunung Meru, kawasan kuil Angkor Wat dikelilingi oleh dinding dan terusan yang mewakili lautan dan gunung yang mengelilingi dunia. Jalan masuk utama ke Angkor Wat yang sepanjang setengah kilometer dihiasi pagar susur pegangan tangan dan diapit oleh danau buatan manusia yang disebut sebagai Baray. Jalan masuk ke kuil Angkor Wat melalui pintu gerbang, mewakili jambatan pelangi yang menghubungkan antara alam dunia dengan alam dewa-dewa.

Sejarah

Angkor Wat terletak 55 kilometres (34 mi) di utara kota modern Siem Reap, dan bergeser ke timur dari bekas ibu kota sebelumnya yang berpusat di candi Baphuon. Candi ini berada di kawasan kelompok percandian terpenting di Kamboja, juga menjadi candi paling selatan dari kelompok candi di kota Angkor.

Rintisan rancangan dan pembangunan candi dimulai pada paruh pertama abad ke-12 Masehi, pada masa pemerintahan rajaSuryawarman II (memerintah pada 1113 – sekitar 1150). Dipersembahkan untuk memuliakan Wisnu, candi ini dibangun sebagai candi agung negara milik raja sekaligus sebagai ibu kota. Karena prasasti yang menyebutkan pembangunannya belum ditemukan, maka nama asli candi ini tidak diketahui. Ditafsirkan candi ini mungkin aslinya disebut sebagai"Preah Pisnu-lok" (Bahasa Khmer Kuno, serapan dari bahasa Sanskerta: "Vara Vishnu-loka") secara harfiah bermakna "Kawasan Suci Wisnu", berdasarkan dewa utama yang dimuliakan di candi ini. Proyek pembangunan sepertinya dihentikan segera setelah kematian raja, menyisakan beberapa relief rendah yang belum rampung. Pada 1177, kira-kira 27 tahun setelah kematian Suryawarman II, Angkor diserang oleh bangsa Champa, musuh tradisional bangsa Khmer. Kemudian kerajaan Khmer dipulihkan kembali oleh raja baru Jayawarman VII, yang mendirikan ibu kota baru di Angkor Thom candi kerajaan baru di Bayon, yang terletak beberapa kilometer di utara Angkor Wat.
Pada akhir abad ke-13, Angkor Wat perlahan-lahan dialihfungsikan dari candi Hindu menjadi candi Buddha Theravada, hal ini berlangsung hingga kini. Angkor Wat agak tidak biasa dibandingkan candi-candi lainnya di Angkor, meskipun ditelantarkan setelah abad ke-16, Angkor Wat tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Angkor tetap bertahan antara lain salah satunya karena parit yang mengelilinginya melindungi bangunan candi dari rongrongan pohon besar hutan rimba.


Salah satu pengunjung Barat perintis yang mengunjungi candi ini antara lain António da Madalena, seorang biarawan Katolik Portugis yang mengunjunginya pada tahun 1586 yang menyatakan "sebuah bangunan yang luar biasa yang tak mungkin digambarkan dengan pena, karena tidak ada bangunan lain di dunia ini yang menyerupainya. Bangunan ini memiliki menara dengan hiasan yang sangat halus dan indah yang hanya bisa diciptakan oleh manusia jenius."Pada pertengahan abad ke-19, candi ini dikunjungi oleh ilmuwan dan penjelajah Perancis, Henri Mouhot, yang memperkenalkan situs ini ke dunia Barat melalui catatan perjalanannya, ia menulis:
"Candi ini—menyaingi (kemegahan) Bait Salomo, dibangun oleh Michelangelo purba—pantas menduduki tempat terhormat sebagai salah satu bangunan terindah (di dunia). Bangunan ini lebih besar dari segala peninggalan Yunani atau Romawi, dan menyajikan kontras yang sangat menyedihkan dengan kondisi kini yang jatuh terpuruk ke dalam kebiadaban."
Mouhot, seperti kebanyakan pengunjung Barat, sulit memercayai bahwa bangsa Khmer mampu membangun candi semegah ini, secara keliru memperkirakan waktu pembangunannya sezaman dengan era Romawi Kuno. Sejarah sebenarnya dari Angkor Wat secara perlahan dirangkaikan kembali melalui mempelajari gaya arsitektur serta bukti epigrafi tertulis pada prasasti, dilanjutkan dengan pembersihan di sekitar situs Angkor. Penggalian di sekitar situs Angkor Wat tidak menemukan peninggalan permukiman seperti bekas rumah hunian atau bukti hunian lainnya seperti perabot memasak, senjata, atau bekas pakaian yang biasa ditemukan di situs purbakala. Hanya monumen inilah yang ditemukan di kawasan ini.
Angkor Wat menjalani pemugaran yang berarti pada abad ke-20, kebanyakan di antaranya adalah membersihkan jeratan tumbuhan dan tumpukan tanah yang menutupi bangunan. Proyek pemugaran terputus akibat perang saudara dan kendali rezim Khmer Merah atas Kamboja pada dasawarsa 1970-an dan 1980-an, akan tetapi kerusakan relatif minim pada periode ini yang kebanyakan adalah penjarahan dan pencurian serta perusakan pada arca setelah era Angkor.
Candi ini merupakan simbol yang kuat dan amat penting bagi negara Kamboja, sebagai sumber kebanggaan nasional dan menjadi faktor penting bagi hubungan diplomatik luar negeri antara Kamboja dengan Perancis, Amerika Serikat, dan Thailand. Penggambaran Angkor Wat dalam bendera nasional Kamboja telah mulai ditampilkan sejak diperkenalkannya bendera perdana Kamboja pada 1863. Akan tetapi, dari perspektif sejarah dan antarbudaya, Angkor Wat tidak pernah menjadi lambang kebanggaan nasional yang sesungguhnya sui generis namun diterapkan dalam proses politik-budaya oleh Kolonial Perancis yang menampilkan candi ini dalam pameran Kolonial Perancis dan pameran universal di Paris dan Marseille antara tahun 1889 dan 1937.
Warisan kesenian yang agung dari Angkor Wat dan monumen Khmer lainnya di kawasan Angkor telah mendorong Perancis untuk memasukkan Kamboja sebagai protektoratPerancis pada 11 Agustus 1863 dan menyerang kerajaan Siam untuk merebut kendali atas kawasan reruntuhan candi ini. Hal ini mendorong Kamboja untuk merebut kembali kawasan di sudut barat laut yang di bawah penjajahan Siam sejak tahun 1351 (Manich Jumsai 2001), atau menurut sumber lain, 1431. Kamboja meraih kemerdekaan dari Perancis pada 9 November 1953 dan sejak saat itu menguasai candi Angkor Wat.

Arsitektur
Situs dan Denah
Angkor Wat, yang terletak di 13°24′45″LU 103°52′0″BT, adalah kombinasi unik bukit candi, desain standar untuk candi negara kekaisaran dan kemudian denah galeri konsentris. Candi tersebut adalah representasi dari Meru, tempat para dewa: menara kwinkunkstengah melambangkan lima puncak bukit, dan dinding dan parit melambangkan barisan bukit dan samudra. Akses ke kawasan paling atas candi tersebut semakin lebih eksklusif, namun kaum awam hanya boleh ke lantai terbawah.


Tidak seperti kebanyakan candi-candi Khmer, Angkor Wat menghadap ke barat ketimbang timur. Hal ini telah membuat banyak orang (termasuk Glaize dan George Cœdès) menyimpulkan bahwa Suryawarman membuatnya untuk digunakan sebagai candi tempat penguburannya. Bukti lebih lanjut untuk pandangan ini adalah dengan disediakannya relief dasar, yang dibuat dalam arah berlawanan jarum jam—prasawya dalam terminologi Hindu—karena ini adalah kebalikan dari penataan pada umumnya. Ritual berlangsung dalam penataan berlawanan saat pemakaman bercorak Brahminik. Arkeolog Charles Higham juga menjelaskan suatu wadah yang mungkin telah menjadi tempat penguburan yang dilakukan di menara pusat. Candi ini telah diyakini oleh beberapa orang sebagai pengeluaran terbesar untuk pemakaman mayat. Namun, Freeman dan Jacques menyatakan bahwa beberapa candi Angkor lainnya menghadap ke timur, dan menunjukan bahwa keselarasan Angkor Wat adalah karena untuk didedikasikan kepada Wisnu, yang dikaitkan dengan barat.


Sebuah interpretasi lebih lanjut dari Angkor Wat telah diusulkan oleh Eleanor Mannikka. Penggambaran pada keselarasan candi dan dimensi, dan pada isi dan susunan relief dasar, ia berargumen bahwa struktur tersebut menunjukan sebuah klaim era baru yang damai di bawah Raja Suryawarman II: "sebagai pengukuran siklus waktu matahari dan bulan yang dibangun di ruang suci Angkor Wat, mandat ilahi ini sampai peraturan yang dibawa ke ruang bakti dan koridor dimaksudkan untuk melanggengkan kekuasaan raja dan untuk menghormati dan menentramkan para dewa yang dimanifestasikan berada di atas langit." Penyataan Mannikka ini telah diterima dengan percampuran kepentingan dan skeptisisme di kalangan akademisi.[18] Ia menjauhkan diri dari spekulasi lain, seperti Graham Hancock, yang menyatakan bahwa Angkor Wat adalah bagian dari representasi rasi bintang Draco.

Gaya
Angkor Wat adalah contoh utama gaya klasik arsitektur Khmergaya Angkor Wat—yang berasal dari nama candi tersebut. Arsitek Khmer abad ke-12 telah memiliki keahlian dan kepercayaan diri dalam menggunakan batu pasir (bukan batu bata atau laterit) sebagai material pembangunan utama. Sebagian besar kawasan yang terlihat menggunakan blok batu pasir, sementara laterit digunakan untuk dinding luar dan untuk bagian struktural tersembunyi. Bahan perekat yang digunakan untuk menggabungkan blok batu tersebut belum teridentifikasi, meskipun diperkirakan mengandung resin atau kalsium hidroksida alami.
Angkor Wat telah menuai pujian berkat semua harmoni desain tersebut, yang dianggap setara dengan arsitektur Yunani dan Romawi Kuno. Menurut Maurice Glaize, seorang konservator Angkor pertengahan abad ke-20, candi tersebut "mencapai kesempurnaan klasik oleh monumentalitas pengendalian elemen, keseimbangan, dan pengaturan yang tepat dari proporsinya. Ini adalah sebuah karya kekuasaan, persatuan, dan gaya."


Arsitekturnya memiliki elemen unsur-unsur ciri-ciri yang meliputi: ogival, menara dengan bentuk bergelombang seperti kuncup teratai; setengah galeri yang memperluas lorong-lorong; galeri aksial yang menghubungkan pagar; dan teras berbentuk palang yang terdapat di sepanjang bagian utama candi tersebut. Gaya elemen dekorasi tersebut adalah dewata (atau bidadari)relief dasar, dan pedimen karangan bunga yang luas dan gambaran naratif. Patung-patung di Angkor Wat dianggap konservatif, menjadi lebih statis dan kurang anggun dari karya sebelumnya. Elemen lainnya dari desain tersebut telah hancur oleh penjarahan dan faktor usia, termasuk stuko berlapis emas pada menara, penyepuhan pada beberapa figur di relief dasar, dan panel langit-langit dan pintu kayu.

Dekorasi
Dekorasi Angkor Wat yang sebagian besar berupa relief rendah, termahsyur keindahannya secara luas karena begitu padu dengan arsitektur bangunan. Dinding bagian dalam pada galeri luar menampilkan berbagai adegan berskala besar terutama gambaran bagian-bagian dari epik HinduRamayana dan Mahabarata. Higham menyebutnya "susunan linear terbesar yang dikenal sebagai ukiran batu". Dari barat laut berlawanan arah jarum jam, galeri barat menampilkan Pertempuran Lanka (dari Ramayana, menampilkan tentang Rama melawan Rahwana) danPertempuran Kurukshetra (dari Mahabharata, memperlihatkan perselisihan antara kelompokKurawa dan Pandawa). Pada galeri selatan mengikuti satu-satunya gambaran sejarah, sebuah prosesi Suryawarman II, terdapat gambaran 32 neraka dan 37 surga dalam mitologi Hindu.



Pada galeri timur terdapat salah satu gambaran adegan paling terkenal yang disebut Pengadukan Samudra Susu, memperlihatkan 92 asura dan 88 dewa memakai ular Wasuki untuk mengaduk samudra susu di bawah pengarahan Wisnu (Mannikka hanya menghitung 91 asura, dan menjelaskan nomor asimetris sebagai perwakilan jumlah hari dari titik balik matahari musim dingin sampai ekuinoks musim semi, dan dari ekuinoks sampai titik balik matahari musim panas). Diikuti dengan gambaran Wisnu bertempur melawan asura (tambahan dari abad ke-16). Galeri utara menampilkan kemenangan Kresna melawan Bana (dimana menurut Glaize, "Pengerjaannya adalah yang paling buruk") dan pertempuran antara dewa Hindu dan asura. Bagian barat laut dan barat daya paviliun kedua menampilkan adegan berskala lebih kecil, beberapa tak teridentifikasi tapi kebanyakan dari Ramayana atau kehidupan Kresna.


Angkor Wat didekorasi dengan gambar apsara dan dewata; terdapat lebih dari 1.796 gambaran dewata dalam inventaris penelitian saat ini. Arsitek Angkor Wat membuat gambar apsara kecil (30–40 cm) sebagai motif dekorasi pilar dan dinding. Mereka memasukan gambar dewata besar (seluruh lukisan bertubuh utuh berukuran sekitar 95–110 cm) lebih menonjol di setiap tingkatan candi dari tempat masuk paviliun sampai bagian atas menara tinggi. Pada tahun 1927, Sappho Marchal menerbitkan sebuah katalog studi tentang keanekaragaman yang luar biasa dari tata rambut, hiasan kepala, pakaian, sikap tubuh dan tangan, perhiasan, dan dekorasi bunga para apsara. Kemudian disimpulkan oleh Marchal, bahwa hal ini didasarkan pada praktik tata rias dan berbusana sebenarnya dari periode Angkor.

Angkor Wat Sekarang
Badan Survei Arkeologi India melakukan kegiatan restorasi pada candi antara 1986 dan 1992. Upaya konservasi lanjutan dan peningkatan masif dalam pariwisata pada situs Angkor Wat telah terlihat sejak tahun 1990an. Candi ini merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia Angkor, didirikan pada tahun 1992, yang telah memberikan sejumlah dana dan telah mendorong pemerintah Kamboja untuk melindungi situs tersebut. German Apsara Conservation Project (GACP) telah bekerja untuk melindungi dewata dan relief dasar lainnya yang menghiasi candi tersebut dari kerusakan.
Survei sebuah organisasi menunjukan bahwa sebanyak 20% dewata berada dalam kondisi sangat memprihatinkan, umumnya dikarenakan erosi alami dan kerusakan batu namun sebagian juga karena upaya restorasi sebelumnya. Pekerjaan lainnya melibatkan perbaikan bagian yang runtuh dari struktur, dan pencegahan keruntuhan lebuh lanjut: bagian barat di lantai atas contohnya, telah ditopang oleh penyangga sejak 2002, sementara tim Jepang menyelesaikan restorasi perpustakaan utara dari bagian luar pada tahun 2005. Yayasan Monumen Dunia mulai melakukan kegiatan konservasi di Galeri Pengadukan Lautan Susu pada tahun 2008 setelah beberapa tahun mempelajari kondisinya. Proyek pemugaran ini meliputi pemulihan sistem bangunan tradisional Khmer dan membersihkan batu dari rekatan semen dari proyek pemugaran sebelumnya.
Penggunaan semen sebagai perekat batu pada pemugaran sebelumnya adalah kesalahan yang telah mengakibatkan garam mineral terbawa air hujan terselip memasuki struktur dibalik relief. Hal ini menimbulkan perubahan warna dan kerusakan pada permukaan pahatan. Fase utama kerja berakhir pada tahun 2012, dan pemasangan komponen terakhir puncak atap galeri dilakukan pada tahun 2013.
Mikroba biofilm ditemukan merusak batu pasir di Angkor Wat, Preah Khan, dan Bayon dan Prasat Barat di Angkor. Dehidrasi dan radiasi filamen resisten cyanobakteria dapat memproduksi asam organik yang merusak batu. Sebuah jamur filamen gelap ditemukan dalam sampel Preah Khan bagian dalam dan luar, sedangkan alga Trentepohliaditemukan hanya dalam sampel yang diambil dari bagian luar, serta batu bernoda merah muda di Preah Khan.


Angkor Wat menjadi tujuan pariwisata utama. Pada tahun 2004 dan 2005, data pemerintah menunjukan bahwa sekitar 561.000 dan 677.000 wisatawan luar negeri datang ke provinsi Siem Reap, sekitar 50% dari seluruh wisatawan luar negeri yang mengunjungi Kamboja di kedua tahun tersebut. Situs tersebut telah dikelola oleh kelompok swasta SOKIMEX sejak 1990, yang disewa dari pemerintah Kamboja. Masuknya wisatawan sejauh ini telah menyebabkan kerusakan yang relatif kecil, selain beberapa grafiti; tali dan tangga kayu telah dipakai untuk melindungi setiap bagian relief dasar dan lantai. Pariwisata juga telah memberikan sejumlah dana untuk perawatan utama — seperti pada tahun 2000 sekitar 28% dari penjualan tiket di seluruh situs Angkor digunakan untuk perawatan candi — meskipun sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh tim yang disponsori oleh pemerintah luar negeri ketimbang otoritas Kamboja.
Pertumbuhan pariwisata secara signifikan telah terlihat dampaknya pada situs Angkor Wat sepanjang tahun. Karena itulah sebuah seminar untuk mendiskusikan konsep "wisata kebudayaan" digelar oleh UNESCO dan Komite Koordinasi Internasional untuk Pemeliharaan dan Pembangunan Situs Bersejarah Angkor, yang terkait dengan perwakilan dari Pemerintahan Kerajaan dan otoritasAPSARA. Untuk menghindari pariwisata komersial dan massal, seminar ini menekankan pentingnya penyediaan akomodasi dan layanan berkualitas tinggi agar pemerintah Kamboja mendapatkan keuntungan ekonomi, serta memadukannya dengan kekayaan budaya Kamboja. Pada tahun 2001, gagasan ini menyebabkan terbentuknya konsep "Kota Pariwisata Angkor" yang akan mengembangkan hal-hal yang berkaitan dengan arsitektur tradisional Khmer, yakni pembangunan fasilitas rekreasi dan pariwisata, dan menyediakan hotel-hotel mewah yang mampu menampung para wisatawan dalam jumlah besar.
Prospek pengembangan akomodasi pariwisata besar-besaran sepertinya telah menimbukan kekhawatiran otoritas APSARA dan ICC, yang mengklaim bahwa pengembangan pariwisata di daerah tersebut sebelumnya telah mengabaikan peraturan konstruksi, dan kebanyakan dari proyek-proyek ini berpotensi merusak fitur lanskap. Selain itu, proyek-proyek berskala besar tersebut telah mengancam kualitas air di sekitar kota, menimbulkan limbah, dan menyedot sistem pasokan listrik. Telah tercatat bahwa tingginya frekuensi pariwisata, meningkatnya permintaan atas penginapan di daerah tersebut, dan pengembangan jalan besar bebas hambatan, memiliki efek langsung pada kualitas air di bawah tanah, yang kemudian akan mengganggu stabilitas struktur candi di Angkor Wat. Penduduk lokal Siem Reap juga menyuarakan keinginan mereka untuk menciptakan lingkungan alam yang mempesona dan suasana kota yang bersahabat untuk menunjang pariwisata. Karena suasana lokal yang memesona ini adalah komponen kunci untuk proyek seperti
Kota Pariwisata Angkor, para pejabat lokal terus membahas bagaimana menyukseskan pariwisata di masa depan tanpa mengorbankan nilai dan budaya lokal.
Pada Forum Pariwisata ASEAN 2012, Indonesia dan Kamboja telah bersepakat bahwa Borobudur dan Angkor Wat menjadi situs bersaudara dan kedua provinsi tempat candi tersebut berdiri juga ditetapkan sebagai provinsi bersaudara. Dua maskapai pesawat Indonesia juga diminta untuk melakukan penerbangan langsung dari Yogyakarta,Indonesia ke Siem Reap.

Sumber :




Selasa, 28 April 2015

Kawasan Konservasi

Pulau Panjang Jepara Jadi Kawasan Konservasi


Pulau Panjang adalah salah satu pulau yang terdapat di Jepara, Jawa Tengah. Memiliki luas sekitar 19 hektar dan berjarak 1,5 mil laut dari Pantai Kartini, Jepara.
Pulau ini memiliki pasir putih dengan dikelilingi laut dangkal berair jernih serta memiliki terumbu karang. Bagian tengah pulau ini terdapat hutan tropis dengan pohon yang tinggi menjulang serta diselingi perdu dan semak sebagai tempat burung laut berkembang biak. Flora di pulau ini dominasi oleh pohon Kapuk randu, Asam jawa, Dadap, serta Pinus.
Kawasan konservasi merupakan kawasan yang sangat penting bagi perlindungan dan pengawetan sumber daya alam dan budaya secara global.  Kawasan konservasi tidak hanya memberikan nilai bagi perlindungan habitat alam beserta flora dan fauna yang ada didalamnya tetapi juga memelihara stabilitas/keseimbangan lingkungan wilayah disekitarnya.  Kawasan konservasi menyediakan peluang bagi wilayah setempat dalam hal pembangunan, pemanfaatan lahan marginal secara rasional, peningkatan pendapatan masyarakat dan penciptaan lapangan pekerjaan.  Selain itu mendukung penelitian dan pemantauan, pendidikan konservasi, rekreasi dan pariwisata.
Keaneragaman hayati, lamun, dan ekosistem terumbu karang  yang kondisinya paling baik di wilayah pantura Jawa Tengah adalah pulau panjang. Keberadaan beragam potensi  alam kawasan pesisir tersebut, Pemkab Jepara akan menjadikan pulau ini sebagai kawasan konservasi.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5ZMWPkCLXaPK8ln4eaZUD1zK2c_jiVcMjx8H96J38QgHe9SP3pTQm_E0AGN8r1ysngZazpDacqI3HCGMb-0O-RZh_Jj0ALA8lsVIY528oBy9xiGJLCAfMyd-e8sjmb5cQT0YaW9BPzEY5/s1600/panjang3.jpg
Pulau ini memiliki potensi keaneragaman hayati, ekosistem terumbu karang, lamun, hewan yang berasosiasi dengan karang. Selama ini, terumbu karang di P. Panjang masih dalam kondisi baik hanya tinggal tujuh persen. Sisanya, 57 persen kondisinya sedang dan 29 persen kondisinya buruk dan 5 persen buruk sekali. Hasil survei lainnya menyebutkan terjadi penurunan pada keanekaragaman dan kelimpahan ikan karang. Pada tahun 2001 ditempat itu ditemukan 360 ekor per transek, sedangkan hasil sensus tahun ini hanya tinggal 61 ekor per transek. Kondisi lamun di Pulau Panjang terbilang masih cukup baik di banding di tempat lain di pantura. Ini dibuktikan dengan kerapatan total lamun masih 388 individu per meter persegi dengan prosentasi penutupan total 85 persen. Faktor penurunan akibat gangguan alam dan gangguan dari aktivitas kegiatan manusia. Selain itu Pulau Panjang berpotensi sebagai penginapan yang mengusung go green, yaitu dengan membangun pennginapan tapi tidak merusak ekosistem pohon-pohon. Sayangnya Pemerintah Kabupaten Jepara belum memanfaatkan tersebut. Padahal di Pulau Panjang juga terdapat  Makam Syekh Abu Bakar, sehingga jika ada resort atau vila atau penginapan disini maka para peziarah bisa ke Pulau Panjang di waktu apapun baik siang maupun malam hari karena ada fasilitas yang memadai untuk istirahat. Oleh karena itu Penyelamatan Pulau Panjang sangat diperlukan karena sebagai penghasil plasma nuftah kelautan bagi perairan Jawa Tengah. Karena itu, Pulau Panjang dapat dikelola dengan model ekowisata bahari berbasis masyarakat.
Pulau ini merupakan tempat wisata laut yang kini digemari masyarakat. Terutama saat upacara tradisional Pesta Lomban, yakni satu pekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Puluhan kapal pesiar disiapkan untuk melayani para wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Panjang. Lokasi Pulau Panjang, tampak mengalami kerusakan yang sangat serius. Menurut peta tahun 1858, Pulau Panjang pernah memiliki luas sekitar 70 hektare. Kerusakan pulau ini, akibat maraknya pencurian trumbu karang, penebangan hutan mangrove dan sedimentasi dari gelontoran lumpur dari hulu melalui muara sungai. Akibatnya, pulau ini sekarang tinggal sekitar 30 hektare. Di sekitar pulau itu, larva terumbu karang tidak dapat berkembang. 
Usaha yang dilakukan dalam pewujudan dari upaya untuk menjadikan pulau ini sebagai kawasan konservasi yaitu dari pihak Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara melakukan penghijaukan Pulau Panjang dengan lima ribu batang tanaman mangrove jenis api- api. Kemudian pada 2012, kembali dihijaukan dengan empat ribu pohon mangrove yang bertujuan untuk mengurangi abrasi. Namun, adanya tekstur tanah di perairan itu yang lunak, maka mangrove yang ditanam sering mati. Selain menanam mangrove, Badan Lingkungan Hidup juga menanam 270 batang berbagai tanaman buah, seperti pohon kresen, ketapang dan waru, karena di pulau itu sebelumnya dilepas ratusan burung berbagai jenis. 
Kemudian Pemerintah Jepara membangun pemecah gelombang sepanjang 670 meter dari beton, pemecah gelombang ini bertujuan untuk mengurangi abrasi. Jarak terdekat  beton pemecah gelombang dibangun dari bibir pantai sekitar 10 meter dan terjauh 50 meter. Pembangunannya dimulai dari barat daya pulau, dekat menara mercu suar. Hasil dari bangunan pemecah gelombang sudah tampak nyata. "Sudah terjadi sedimen pasir putih di bangunan pemecah gelombang sepanjang 539 meter. Sedimen ini berhasil mewmbentuk daratan baru dan mulai mengembalikan beberapa daratan yang hilang, di antaranya jalan di depan makam Syeh Abu Bakar yang hampir terputus, sekarang tersambung lagi. Bangunan pemecah gelombang itu memang belum ideal. Idealnya pemecah gelombang itu mengelilingi Pulau Panjang. 
Selama ini Pulau Panjang dijadikan sebagai tempat wisata karena lokasinya sangat strategis dan dekat dengan Pantai Kartini. Apalagi, setelah Pantai Kartini dilengkapi museum kura-kuranya, sebuah pesawat terbang, kolam kecek,dan taman bermain anak serta gazebo. Sejak 10 tahun terakhir ini, Jepara kehilangan pantai seluas 61 hektare, akibat abrasi. Daerahnya tersebar di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Kedung terkena abrasi 9,7 hektare, Kecamatan Jepara 7,3 hektare, Kecamatan Mlonggo 5,5 hektare, Kecamatan Keling 37,8 hektare dan Kembang 0,5 hektare.
Oleh karena itu dilakukannya konservasi pada pulau Panjang ini diharapkan selain untuk menjaga dan melindungin kekayaan ekosistem yang ada pada pulau juga bisa dijadikan sebagai tujuan penelitian mahasiswa selain memiliki fungsi sebagai tempat wisata yang nantinya akan berimbas pada pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakatnya.

Sumber :